Setiap orang di seluruh dunia dikejutkan oleh berita tentang presiden Republik Indonesia (RI) yang menolak kunjungan presiden Amerika Serikat (AS). Penolakan itu disampaikan oleh menteri sekretaris negara dengan sebelumnya menyampaikan permintaan ma’af melalui email pribadi masing-masing.
Negara Amerika Serikat yang terdiri dari 50 negara bagian mampu mencaplok wilayah Indonesia dan berpenduduk dua kali lebih banyak dengan sejarah panjang menguasai negara-negara ketiga tidak seharusnya diremehkan. Kunjungan presidennya adalah dalam rangka diskusi perbaikan ekonomi global dan itu sangat berpengaruh bagi negara-negara lain di Asia Tenggara.
Presiden AS melalui juru bicaranya, menteri luar negeri, mengatakan Indonesia sebagai negara yang egois, tidak tahu berterima kasih dan tidak pernah belajar dari sejarah. Presiden RI dalam acara ramah tamah buka puasa menanggapinya dengan setengah bercanda mengucapkan terima kasih atas pemberitahuannya dan merasa egois jika tidak merespon “pujiannya” untuk menanyakan sejarah mana yang dimaksud. Dan malam ini, semoga presiden AS mengerti, presiden RI akan menjelaskan penolakan kunjugan presiden AS.
Presiden RI membacakan, tanpa teks, alasan penolakan kunjugan tersebut di sebuah desa di pedalaman Kalimantan seperti yang beliau kirim kepada presiden AS lewat email.
Alasan pertama dan seperti kunjungan-kunjungan presiden AS sebelumnya yang diterima oleh presiden RI sebelumnya adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan pemerintah RI sehubungan dengan kunjungan itu. Bayangkan jika kunjungan satu orang saja dapat memakan biaya hingga 6 milyar rupiah. Tahun lalu, dengan biaya kurang dari 6 miliar pemerintah Indonesia mampu mendirikan lebih dari 90 SD dan memperbaiki lebih dari seratus SD di dua puluh daerah.
Alasan kedua adalah “belajar dari sejarah” bahwa tiap kali presiden AS datang selalu diwarnai dengan demonstrasi mahasiswa dan organisasi massa lain yang menolak kunjungannya, maka presiden RI dengan segala hormat menawarkan penolakan dari beliau sendiri daripada lewat demonstrasi yang penuh caci maki dan itu dapat merendahkan negara AS yang besar.
Alasan ketiga yang juga belajar dari sejarah karena kunjungan itu mendadak, maka sudah sewajarnya beliau menolaknya. Presiden RI, sejak terpilih, memunyai jadwal yang sangat padat. Bahkan dalam biografinya tertulis jika beliau hanya tidur kurang dari dua jam sehari dan sangat memanfaatkan tidur selama perjalanan. Jadwal kunjungan presiden AS berbenturan dengan kunjungan presiden ke daerah bencana banjir dan longsor di Sumatra Utara yang terjadi kemarin. Beliau berpesan pada presiden AS agar membuat janji terlebih dahulu sebelum berkunjung minimum dua tahun sebelumnya, dan semoga presiden AS memaklumi. Namun presiden RI memberikan pilihan lain untuk bertemu yaitu ikut menemani beliau ke Sumatra Utara membantu para korban banjir dan longsor. Itu merupakan satu-satunya pilihan terbaik yang beliau sebut dengan alternatif 2 in 1, atau mungkin 3 in 1 karena ditambah dengan turut menemani beliau sahur dan buka puasa bersama para korban banjir dan tanah longsor. Dan sebenarnya, masih ada dua belas alasan lagi untuk menolak tapi menurut beliau dua alasan itu sudah cukup.
Setelah menerima email tersebut presiden AS memakluminya. Dan karena presiden RI belum bisa menerimanya, maka ia meminta agar beberapa menteri kabinet Ri yang berkepentingan dapat menerimanya. Presiden RI berkenan dengan permintaan tersebut dan menanyakan pada para menterinya apakah ada yang berminat menerimanya?
Perlu Anda ketahui penolakan kunjungan ini terjadi di tahun 2060 setelah pemerintah Indonesia melalui Bank Mandiri membeli seratus persen saham Microsoft, Google, Shell, BP, Hilton, Citibank, American Express (selanjutnya berubah menjadi Indonesian Express; memindahkan kantor pusat PBB ke Purworejo dan menjadi Dewan Keamanan tetapnya)
(Sumber: [DS] Forum)
Unique visitors to post: 8
Hahaa… konyol ….
Kl ini terjadi….bs perang..wkwkkk